RSS

Elegi

Rasa padamu
Mengandung sejuta warna
Tak terurai
Hanya mampu ku jalani
Dengan sepenuh hati

Rasa padanya
Mengandung sejuta pelangi
Tak terdefinisi
Hanya mampu ku lukiskan
Dengan kesungguhan nurani

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada September 18, 2013 in Uncategorized

 

Another Uncategorized

Sejatinya cinta antara manusia adalah

Ia mencintaimu dengan rasa tanggung jawab,

menjaga kesetiaannya dengan sebaik-baik cara

Ia menghormatimu, karenanya ia memilhmu dengan cara yang pantas

Ia menghargai kelebihan yang ada padamu,

dan melengkapi kekurangan yang kamu miliki

Ia tak pernah meminta apa yang tak ada padamu.

selalu memikirkan yang terbaik untukmu, dan berjuang karenanya

Ia menetapimu dalam kebenaran,

memperbaiki kesalahanmu dengan ketulusan cintanya

Ia membersamaimu dalam mengarungi kehidupan,

mencintai apa yang kamu cintai,

membenci apa yang kamu benci

Ia tak pernah merasa memilikimu

hanya berusaha menjaga dengan baik karunia Ilahi yang sangat ia syukuri, yaitu dirimu

Ia seperti mentari, yang menyinarimu dengan cinta dan kasihnya

Ia seperti air, yang menyiramimu dengan rasa pedulinya

Tak peduli tempat, jarak, dan waktu,

karena ia ada dan dekat, dengan hati dan jiwamu..

Nurul Narita Triati – 11 Agustus 2013

//

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Agustus 15, 2013 in apa ajalah, cinta, kehidupan, puisi

 

Tag: , , ,

Istikharah: Tak Hanya Sekedar Memilih Jodoh

images

Pada suatu pagi menjelang siang di rumah sepasang pengantin baru, sang suami melakukan shalat dua rakaat. Seusai melaksanakan shalat tersebut, sang isteri menanyakan kepada suaminya

“Mas, kamu tadi shalat apa? Bukannya tadi sudah selesai shalat Dhuhanya?”

Suami menjawab “Mas tadi sholat Istikharah dek.”

Wajah sang isteri berubah dan berucap dengan nada yang lebih tinggi dari sebelumnya

“Emangnya kamu ini mau nikah lagi? kita kan baru aja menikah mas, kamu mau milih antara aku atau dia??”

Sang suami heran dan diam seribu bahasa “$#%$#%$#^%^?????”

*****

Well, cerita diatas memang hanya sebuah ilustrasi belaka, tapi bukan tak mungkin itu terjadi di dunia nyata. Tidak sedikit orang yang menganggap bahwa sholat istikharah merupakan sholat untuk meminta jodoh, dimudahkan memilih jodoh atau segala sesuatu yang berhubungan dengan pernikahan, ini tentunya merupakan anggapan yang salah karena Rasulullah SAW menganjurkan istikharah dalam segala urusan. Anggapan yang salah ini dapat disebabkan karena banyak diantara kaum muslimin yang melakukan ibadah tanpa ilmu pengetahuan padahal dalam surah Al Israa’ ayat 36 Allah SWT melarang kita untuk melakukan itu.

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (Q.S Al-Israa’: 36)

Dalam post kali ini akan dijelaskan mengenai keutamaan dan manfaat serta beberapa hal yang harus diperhatikan dalam melaksanakan shalat istikharah.

Pengertian Shalat Istikharah

Sholat istikharah adalah shalat sunnah yang dianjurkan ketika seseorang berkeinginan keras untuk melakukan sesuatu urusan yang mubah. Shalat istikharah dilakukan bertujuan untuk meminta petunjuk agar Allah menetapkan, memudahkan dan memberikan keberkahan untuk menjalankan urusan tersebut. Shalat ini juga dapat dilakukan ketika kita diharuskan memilih diantara beberapa pilihan agar Allah menunjukkan pilih mana yang terbaik untuk kita.

Tata Cara Shalat Istikharah

Shalat istikharah adalah shalat sunnah dua rakaat selain shalat fardu dengan kata lain shalat istikharah dapat dibarengkan dengan shalat sunnah dua rakaat apa saja asalkan dengan niat (sebagai contoh istikharah dibarengkan dengan shalat Rawatib dalam satu shalat). Kemudian setelah selesai hendaknya berdoa dengan doa yang disebutkan dalam hadist berikut.

doa istikharah

Dari Jabir bin Abdillah RA, dia berkata, “Rasulullah SAW pernah mengajarkan istikharah kepada kami dalam segala urusan sebagai mana beliau mengajari kami surat Al Qur’an. Beliau bersabda: “Apabila salah seorang diantara kalian berkeinginan keras untuk melakukan sesuatu, maka hendaklah ia mengerjakan sholat sunnah dua rakaat selain sholat fardhu lalu berdoa, “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon petunjuk kepada-Mu dengan ilmu-Mu, memohon suatu ketetapan dengan kuasa-Mu dan aku memohon karunia-Mu yang sangat agung, sungguh Engkau berkuasa dan aku tidak berkuasa sama sekali, Engkau mengetahui dan aku tidak mengetahui, dan Engkau maha mengetahui segala yang gaib. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa urusan ini [lalu menyebutkan urusan yang dimaksud] lebih baik bagiku dalam agama, kehidupan dan akhir urusanku, (atau beliau mengucapkan, “baik waktu dekat maupun waktu yang akan datang”), maka tetapkanlah ia bagiku dan mudahkanlah untukku dan berikanlah keberkahan untukku dalam menjalankannya. Dan jika engkau mengetahui bahwa urusan ini buruk bagiku dalam agama, kehidupan dan akhir urusanku, (atau beliau mengucapkan, “baik waktu dekat maupun waktu yang akan datang”), maka jauhkanlah urusan itu dariku dan jauhkanlah aku darinya, serta tetapkanlah yang baik bagiku dimanapun kebaikan itu berada, lalu jadikanlah aku orang yang ridha dengan ketetapan tersebut.”(H.S.R Bukhari, Nasa’I, Abu Dawud, At-tirmidzi dan ibnu Majah)

Doa tersebut dibaca setelah selesai melaksanakan shalat. Saat pelaksanaan shalat, tidak ada bacaan khusus ataupun surat khusus yang dibaca. Tidak ada keterangan tentang waktu yang tepat untuk melaksanakan shalat istikharah sehingga shalat dapat dilakukan kapan saja sesuai kebutuhan kita.

Hal yang harus diperhatikan:

  1. Istikharah disyariatkan dalam perkara-perkara yang mubah seperti memilih pekerjaan, perniagaan, pernikahan, dan sebagainya dan bukan perkara sunnah (kecuali sesuatu yang kita diharuskan memilih), bukan juga perkara yang wajib atau haram. Karena perkara wajib dan haram sudah ada ketentuannya dan bukan sebuah pilihan.
  2. Setelah beristikharah seseorang diharapkan memilih sesuatu yang membuat hatinya tenang. Ketenangan yang dimaksud bukan sesuai dengan hawa nafsunya tetapi apa yang sudah ditunjukkan Allah. Sebaiknya seseorang yang beristikarah meninggalkan pilihannya jika hanya mengikuti hawa nafsunya karena jika tidak, itu sama halnya dengan tidak beristikharah kepada Allah.
  3. Bukan termasuk syarat dalam istikharah, bahwa seseorang akan “bermimpi” sebagaimana yang diyakini kebanyakan orang. Tetapi sesuatu yang membuat dirinya tenang (kemantapan hati dalam memilih) atau menjalankan secara alami sesuai dengan apa yang Allah pilih untuknya.
  4. Terkadang apa yang dipilih Allah itu tidak sesuai dengan hawa nafsu yang menurut pendapatnya itu adalah buruk baginya, maka dari itu ia harus pasrah menerima keputusan Allah. karena Allah berfirman dalam surah Al-Baqarah ayat 216 Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”
  5. Istikharah merupakan doa, sehingga tidak apa-apa dilakukan berulang-ulang agar mendapatkan kemantapan hati yang ditunjukkan oleh Allah SWT. Sebagai catatan, ada hadist yang mengatakan, “Jika kamu berkeinginan keras terhadap sesuatu, maka beristikharahlah pada Allah sebanyak tujuh kali” (H.R Ibnu Suni). Hadist ini tidak Shahih, karena sanadnya batil (lihat Al Mizan 1/21)

Dapat disimpulkan bahwa shalat istikharah merupakan shalat sunah yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah SAW ketika kita ingin melakukan suatu urusan sehingga Allah menunjukkan baik atau buruknya urusan yang akan kita lakukan. Shalat istikharah bukan hanya shalat untuk hal yang berhubungan dengan jodoh, tetapi segala urusan yang bersifat mubah. Hasil dari shalat istikharah adalah kemantapan hati kita untuk memilih dan bukan hanya diperlihatkan mimpi seperti yang diyakini kebanyakan orang.

Sekarang, sudah kita soroti betapa mudahnya melakukan shalat istikharah dan betapa ringannya shalat istikharah jika kita mengikuti sunnah Rasulullah SAW. Setelah kita memahami sunnah ini, maka kita dapat mengamalkannya dengan baik tanpa ada keraguan. Semoga Allah selalu memberikan rahmat kepada hambanya yang senantiasa istiqomah menjalankan sunnah dan menjauhi segala bentuk ibadah yang tidak ada contohnya dari Rasulullah SAW.

Disusun oleh Ibnu Muhammad (shyman.line@gmail.com)

Dikutip dari berbagai sumber diantaranya

Abu Malik Kamal. 2006. Sahih Fikif Sunnah jilid 1 edisi pertama (diterjemahkan oleh: Bangun sarwo dan Mansur Huda). Jakarta: Pustaka Azzam.

Muhammad Niam. “Bagaimana Mendapatkan Jawaban dari Istikharah” (Online), (http://www.pesantrenvirtual.com/index.php?option=com_content&view=article&id=1292:bagai.. Diakses pada tanggal 1 Agustus 2013)

www.hadits.net/islamia/fiqih-islam/11845-shalat-istikharah-ketika-ingin-memilih-atau-telah-mantap-pada-pilihan

//

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Agustus 1, 2013 in Ibadah, Sunnah

 

Tag: ,

Musuh

Apa kalian punya musuh? Kalau punya, siapakah musuh kalian? Kalau punya, mengapa mereka bisa menjadi musuh kalian? Jawab pertanyaan tersebut yaaa ^^

Kembali ke tema “musuh”. Apakah kita merasa sebagai orang yang banyak memiliki musuh atau orang yang justru tidak memiliki musuh? Sejujurnya, saya katakan, tak ada seorangpun yang tidak memiliki musuh. Semuanya punya musuh dan kembali pada perspektif kita dalam menentukan siapa dan apa sajakah yang patut dijadikan musuh.

Jika dianalogikan secara sederhana, musuh seorang penderita diabetes adalah gula. Namun, haruskah penderita diabetes tersebut berhenti mengkonsumsi gula? Agar gula darahnya tidak naik? Jawabnya tentu saja tidak, karena walaupun gula adalah “musuh” bagi penderita diabetes, namun penderita diabetes tetap memerlukan gula, tentu saja dengan kadar yang sesuai. Seperti kata-kata disebuah iklan gula jagung, “manisnya hidup, kita yang tentukan” hehehe. Jadi, begitulah, penderita diabetes yang “musuh”nya adalah gula, ketika mereka sudah mampu menentukan seberapa banyak si “musuh” dapat diterima oleh tubuhnya, maka selama itu pula kondisi tubuh mereka akan tetap berada dalam kondisi yang aman. So, sebelum kita terlalu jauh membicarakan tentang diabetes (dan saya tidak ekspert dalam bidang itu), mari kita kembali ke tema kita, “musuh”. Apa teman-teman ambil kesimpulan tentang analogi saya diatas? Kalau belum bisa, mari saya lanjutkan tulisan ini. Kalau sudah bisa, ya saya tetap lanjutkan sih. Hehehe ^_^
Ya, setiap orang memilik musuh, yakin deh. Jika musuh tersebut bukan dalam bentuk manusia, namun coba kita pikirkan, ada musuh yang lebih berbahaya daripada manusia manapun. Siapa hayoooo?? Yap, hawa nafsu kita sebagai fitrah seorang manusia. Pernah berada dalam kondisi dimana kita harus memilih antara yang berpahala dan yang berdosa, tetapi kita malah memilih yang berdosa? Kalau pernah, maka pada saat itu hawa nafsu kita sudah berubah menjadi musuh. Saat hal itu terjadi, kita harus segera mengambil tindakan tegas atas “musuh” baru kita itu. Karena jika dibiarkan berlarut-larut, maka ia akan semakin kuat dan sulit untuk ditundukkan. Lalu bagaimana caranya? Menundukkan “musuh” kita itu? Sudah ada solusinya kok, karena selain hawa nafsu, Allah SWT sudah memberikan kita akal, sebagai kawan dari sang nafsu, yang jika mereka berjalan beriringan dan selaras dalam kebaikan, maka itu adalah hal yang sangat baik, dan beruntunglah kita menjadi orang yang dapat menundukkan sang nafsu dengan akal budi kita. Karena, bagaimanapun, kita tetap membutuhkan sang nafsu, karena nafsu adalah fitrah kita, dan sebagaimana fitrah, ia akan tetap menjadi baik selama kita mampu menempatkannya dalam posisi yang haq. Dan kemampuan kita dalam mengendalikan dan menundukkan hawa nafsu-lah yang menentukan apakah sang nafsu akan menjadi kawan atau musuh.
Itu sekelumit hal kecil tentang musuh menurut saya. Jadi, gak perlu repot mencari siapakah musuh kita, karena ternyata, “musuh” yang harus kita taklukkan sudah ada dalam diri kita sendiri. Dan dalam hal ini, pilihan selalu ada: “ditundukkan atau menundukkan?”.
Dan sekali lagi, tulisan ini adalah refleksi dan pembelajaran yang penting bagi diri saya pribadi. Saya tulis karena ingin berbagi. Untuk saling mengingatkan dalam kebaikan, semoga bermanfaat.

//

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Agustus 1, 2013 in apa ajalah, kehidupan

 

Hargai Dirimu, Temukan Potensimu

Apa yang kalian pikirkan ketika mendengar kata menghargai? Pasti berbagai macam hal dan kejadian yang melintas di otak kita, hal-hal yang berkenaan tentang menghargai, lalu selanjutnya menghormati, dan berempati. Semua hal-hal tersebut hanya dapat dirasakan dan dilakukan oleh orang-orang yang memiliki, hmm.. katakanlah, kerendahan hati dan ketulusan dalam menilai sesuatu.

Saya punya sebuah cerita, tentang seorang anak yang sangat “istimewa”, penderita autis, yang saya temui ketika saya melakukan tugas observasi disebuah primary school yang menerapkan sistem inklusi. Kita panggil saja anak itu “Bintang”. Sekilas lalu, mungkin orang-orang yang melihat Bintang akan merasa iba atau kasihan, dan menganggapnya sebagai anak yang memiliki keterbatasan. Tapi profesi yang saya jalani mengajarkan saya, bahwa setiap anak itu istimewa, mereka pasti memiliki potensi-potensi yang baik, yang seharusnya digali dan ditemukan dengan bantuan kita-para orang dewasa-, bukan dengan dikasihani apalagi dicaci. Itu yang berusaha saya lakukan ketika melihat Bintang, saya berusaha objektif dan menghargai Bintang sebagai seorang anak yang istimewa dan berbeda dengan potensi yang pastinya unik.

Usia Bintang kala itu 9 tahun. Dan ketika saya sudah selesai melakukan observasi, saya mengetahui bahwa Bintang berbakat dalam hal menggambar, bahkan sedang mengikuti les melukis. Anak istimewa seperti Bintang bahkan bisa mengikuti les melukis, dengan segala potensi dan keterbatasan yang ia miliki. Untuk bisa sampai pada tahap seperti ini, Bintang telah melewati banyak hal yang tidak dijalani oleh teman-teman seusianya. Untuk sampai pada tahap dimana Bintang dapat bersekolah, menemukan apa yang dia suka, membaca, menulis, berhitung, bahkan beribadah, Bintang telah melalui berbagai proses, yang saya yakin, tidak ia mengerti. Dia sudah berkali-kali melakukan terapi di berbagai dokter dengan berbagai macam spesialis, Bintang juga hanya memakan makanan yang disetujui oleh dokter gizinya, tidak bisa sembarang jajan, tidak bisa sembarang minum susu. Anak seperti Bintang kerapkali menyakiti dirinya, tanpa ia sadari ia telah membuat tangannya terluka dan membuat sebagian rambutnya pitak karena dicabuti oleh dirinya sendiri, sekali lagi, tanpa ia sadari.

Ya…untuk dapat sampai pada tahap itu, sudah banyak sekali usaha yang dilakukan dan dijalani oleh Bintang dan orang tuanya. Dan saat mengetahui hal itu, saya benar-benar kagum, dan menghargai Bintang sebagai seorang anak yang luar biasa, dalam arti sesungguhnya . Lalu saya bercermin kepada diri saya…untuk sampai pada tahap seperti Bintang, saya bahkan tidak melakukan suatu usaha apapun yang melelahkan, saya dapat membaca, berhitung tanpa usaha sekeras Bintang. Ketika seusia Bintang, saya memiliki teman, sekolah, keluarga, dan lingkungan tanpa banyak usaha yang berarti. Bagaimana dengan anak seperti Bintang? Untuk menyadari lingkungan sosialnya, dia harus menempuh banyak usaha dan pengobatan. Kalau dibandingkan memang sangat jauh, karena Bintang memang istimewa.

Ketika saya melihatnya dari sudut pandang yang lain, saya akan menemukan, bahwa usaha yang dilakukan oleh Bintang dan saya memang sangat jauh berbeda. Penghargaan dan terutama, penerimaan dari orang tua Bintang, yang membuat Bintang menjadi lebih istimewa, mereka berusaha dengan sebaik-baiknya, untuk menghargai apa yang ada pada diri Bintang dengan pikiran yang positif, saya yakin itu.

Anak istimewa seperti Bintang bahkan memiliki potensi yang baik. Bagaimana dengan kita? Dengan segala kesempurnaan yang sudah Allah berikan sejak kita lahir. Sudahkah? Sudahkah kita temukan potensi kita? Jika belum, lantas bagaimana? Kembali pada prinsip setiap anak istimewa, saya percaya setiap orang istimewa, begitupun dengan diri saya dan anda, yang jadi permasalahan adalah, sudahkah kita temukan keistimewaan kita? Jika sudah, maka beruntunglah anda  anda hanya perlu untuk memaksimalkan potensi dan keistimewaan yang anda miliki. Namun jika belum, belajarlah… belajarlah untuk menghargai diri anda, seperti apapun keadaan, kondisi maupun situasi yang anda alami. Karena ketika kita mampu menghargai diri sendiri, maka penilaian buruk orang lain tentang diri kita, tidak akan berpengaruh besar, karena kita memahami seperti apa diri kita. Setelah kita pahami diri kita, lalu kita menerimanya, dengan kerendahan hati dan kemauan untuk memperbaiki diri.

Belajar dari Bintang, bahwa tak ada satupun yang diciptakan olehNya yang tak berguna, semua punya kemampuan, semua memiliki porsinya sendiri. Tinggal bagaimana kita mensyukuri segala sesuatunya. Lalu menghargai setiap yang ada pada diri kita, dan berusaha dengan sebaik-baiknya. Hasilnya? Apapun itu, percayalah itu yang terbaik, karena kemampuan tertinggi seseorang adalah ketika ia dapat melihat yang terbaik dari tiap peristiwa. Ia akan memiliki hati yang lapang dan pikiran yang jernih. Ia mampu menghargai, dan menemukan kebaikan pada diri seseorang. Tak ada prasangka, apalagi benci, yang ada hanya saling memahami, keterbatasan sebagai sebuah kemanusiawian. Ahh… betapa damainya .

Sekali lagi, post ini adalah sebuah pelajaran dan refleksi untuk diri saya pribadi. Saya tulis karena ingin berbagi. Berbagi cerita, pengalaman, dan pelajaran yang saya dapatkan. Semoga bermanfaat dan membawa perubahan yang haq.

//

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Agustus 1, 2013 in apa ajalah, kehidupan

 

Uncategorized

Semua diciptakan berpasangan;
Ada siang-malam, matahari-bulan
Ada aku, maka ada kamu
Untuk saling melengkapi dan menetapi dalam kebenaran

Bersama pasti ada perbedaan
Namun bukan untuk dijadikan pertengkaran
Jadikan proses pendewasaan

Bersama pasti ada perselisihan
Namun bukan berarti tak ada jalan keluar
Asal mau mencoba lebih memahami

Bersama juga ada kekuatan
Yang mengangkat dikala jatuh
Yang menyemangati dikala letih
Yang mengingatkan dikala salah

Bersama ada harapan
Membagi mimpi dan asa tentang masa depan
Merangkainya dengan kasih dan pengabdian
Ada Allah yg menentukan

Bersamamu, bersama mereka,
Aku selalu mampu untuk terus bertahan dan bertahan
Karena kasih kalian selalu mengingatkan…

…bahwa aku bukan milikku sendiri
Aku milikNya, akan kembali padaNya, dan pada kalianlah aku dititipkan ^_____^

*NNT via Twitter tanggal 16 Juni 2013*

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juli 26, 2013 in apa ajalah, kehidupan, tentang saya

 

For The Rest Of My Life

For the rest of my life.. I’m not say that this will be easy, but I’ll keep trying…

For the rest of my life, mengingatkan saya akan judul lagu dari Akhy Maher Zain 😀 it’s a really good song, and I know most of women love that song :p so do I. tapi di post kali ini, saya tidak berusaha mengulas lagu itu dari sisi saya. saya hanya ingin bercerita, tentang apa yang wanita pikirkan sebelum ia menikah. ups, keluar juga deh tuh kata sakti “menikah’. hehehe :p

For the rest of my life, saya mengaitkan ini dengan kata kesetiaan, sebuah janji setia. Yaa… setia, hal yang sekarang-sekarang ini susah dicari dan tak bisa dibeli. daridulu, saya yang polos ini *ciee :P* selalu mengaitkan menikah adalah sebuah komitmen tentang tanggungjawab dan setia, dimana cinta membuat pasangan yang menikah menjadi dewasa dengan berbagai macam jalan hidup yang mereka tempuh bersama. Lalu seiring berjalannya waktu, saya melihat kenyataan lain dari pernikahan selain komitmen tanggungjawab dan setia, dimana pertengkaran dan perceraian menjadi cerita lain didalamnya. dan ketika itu saya berpikir, menikah bukan perkara yang mudah dan berisi hal-hal yang membahagiakan saja. padahal, biasanya wanita lebih suka memikirkan hal-hal yang bisa membuat bahagia daripada memikirkan kemungkinan ketidakbahagiaan disaat dirinya tengah bahagia, ngerti yang saya maksud? hehehe maaf, bahasanya sedikit berbelit. mungkin sebab itulah, yang menyukai cerita dongeng adalah para wanita, karena begitu melihat sebuah happy ending, hati wanita pun turut dilingkupi perasaan bahagia seperti yang dirasakan para tokoh dalam dongeng.

For the rest of my life, wanita mana yang tidak ingin menikah? Saya ingin menikah, saya ingin memiliki suami yang baik, saya ingin memiliki banyak anak, dan saya ingin menjadi istri dan ibu yang baik, menjadikan keluarga saya dekat dengan rahmatNya. Itu impian wanita tentang pernikahan. Dan mereka (wanita) berusaha untuk meraihnya, bahkan dari sebelum mereka menikah, mereka belajar memasak, belajar menata dan mengurus rumah, belajar mengurus bayi dan mendidik anak, belajar menghias diri, mereka belajar menjadi lebih baik lewat berbagai usaha dan diatas itu semua mereka mulai memasukkan harapan mereka, keinginan mereka, lewat do’a-do’a yang panjang sehabis mereka sholat. Berharap.

For the rest of my life. Ketika seorang wanita menikah, saya banyak melihat bahwa mereka menempatkan setia sebagai komitmen utama, selain rasa percaya. Mereka sudah dicintai oleh suami mereka, maka mereka membalasnya dengan rasa cinta yang berbalut kesetiaan dan pengabdian pada imam mereka, sosok bernama suami.

For the rest of my life, menjaga komitmen memang bukan hal yang mudah, tapi bagi wanita, hal itu adalah keutamaan baginya, menjaga kehormatan dan harta suaminya, karena disitulah terletak pintu surga baginya.

For the rest of my life, ada suka dan duka dalam tiap jalan hidup yang mewarnai hari-hari kita, dimana setiap usaha tak selalu berbanding lurus dengan hasil yang kita inginkan, disitulah letak kesabaran dan keikhlasan. Rencana kita, tak selalu sesuai dengan apa yang kita harapakan. Namun, disinilah saya belajar, sebaik-baik rencana adalah rencanaNya, rencana Allah Ta’ala. Sebab itu, ikhtiar dan tawakkal harus berjalan seiring, tidak berjalan sendiri-sendiri. Ketika kita tengah berikhtiar, maka pada saat itu juga kita tengah bertawakkal apapun ikhtiar kita, Allah-lah penentu segalanya.

For the rest of my life, menikah dan dewasa tak pernah tergantung pada bilangan usia. Ia terletak pada kesiapan diri dan perspektif kita dalam menjalani hidup ini. Mempersiapkan hati, memantaskan diri, karena tujuan kita tak hanya dunia, ada akhirat tempat segala sesuatunya sesungguhnya bermula ^_^

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juli 26, 2013 in apa ajalah, cinta, kehidupan, tentang saya